12 Desember 2010

TUGAS PTC 2

Take Home

Kasus : Tuan B 50 th seorang direktur sebuah CV
Keluhan : Kaku di tengkuk sudah kurang lebih 2 tahun, sangat perasa dan susah tidur.
Pemeriksaan : Pengamatan, keadaan tubuh tidak ada kelainan
Lidah : otot kedua tepi merah tua, selaput lidah putih tipis dan sedikit di tengah-tengah
Penciuman/ pendengaran : Tidak ditemukan kelainan
Anamnesa : Adanya kehidupan seksual yang berlebihan di masa lampau, saat ini kekuatan seksualnya menurun, sehabis coitus pingganggnya selalu terasa pegal dan kaku. Daya konsentrasi berkurang terutama bila tengkuk terasa kaku
Sangat suka dingin, air es merupakan minuman keharusan.
Perabaan lokal : Otot tengkuk terasa tegang
Nadi : Kuat bertenaga terutama nadi hati; nadi ginjal dibanding dengan nadi yang lain terasa lemah
Pemeriksaan tambahan : Tensi 200/120 mm Hg
Jantung dan paru tidak ada kelainan
Laboratorium : Kolesterol dan trigliserid normal, yang lain normal
Diagnosa kerja : Orang ini sakit apa, disebabkan karena gangguan fungsi organ apa; bagaimana langkah terapinya

Read more...

28 November 2010

TUGAS PTC

KASUS
Ny. G usia 40 tahun secara kebetulan dalam pemeriksaan kesehatan (Check Up) ditemukan urin reduksi positif, and kadar gula ruchter 146 mg%; postpandial 2 jam 198 mg%.

PENGAMATAN
Kesan sen baik, tubuh kurus (tinggi 164 cm, berat 45 kg)
Lidah – otot lidah berwarna merah
Selaput lidah kekuning-kuningan tipis, penyebaran tertama di tengah, kebasahan lidah member kesan kering

ANAMNESA
Kebiasaan makan-minum suka yang dingin-dingin terutama minum es.
Nafsu makan baik, makan banyak tetapi tidak mau gemuk.
Sering minum karena selalu merasa haus.
Badan sering pegal-pegal dan capek.

PERABAAN
Nadi cepat dan kuat.

PEMERIKSAAN TAMBAHAN
Tekanan darah 120/80 (normal)
Nadi 108/menit
Jantung/paru tidak ada kelainan
Lab: urine reduksi positif; gula darah michter 150 mg%; P.P. 2jam 202 mg%
(normal: 80 mg% dan PP 2 jam 120 mg%)

DIAGNOSA KERJA
Orang sakit ini sakit disebabkan karena apa? Bagaimana langkah terapinya?

Read more...

10 Oktober 2010

MEMBANGUN SIMBIOSIS MUTUALISME ACTION RITEL MAKANAN DI DAERAH (Sebuah Solusi Sinergi Supermarket dan Pasar Tradisional dalam Mengangkat Potensi Ritel

Oleh: Huzaifah Hamid*

Industri ritel merupakan industri yang strategis dalam kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia. Dalam konteks global, potensi pasar ritel Indonesia tergolong cukup besar. Industri ritel memiliki kontribusi terbesar kedua terhadap pembentukan Gross Domestic Product (GDP) setelah industri pengolahan1. Selain itu, itu dilihat dari sisi pengeluaran, GDP yang ditopang oleh pola konsumsi juga memiliki hubungan erat dengan industri ritel. Hal inilah yang diyakini menjadi daya dorong pemulihan pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca krisis tahun 1998. Hal ini dapat dilihat dari laporan perekonomian Indonesia di tahun 2007 ini

Bahkan menurut data dari laporan perekonomian Indonesia Tahun 2007 industri Ritel dapat dikategorikan menjadi industri yang merupakan hajat hidup orang banyak karena sekitar 10% dari total penduduk Indonesia menggantungkan hidupnya dengan berdagang

Melihat data-data di atas seharusnya Industri ritel terutama di bidang makanan mempunyai potensi besar untuk dikembangkan hingga ke daerah-daerah di seluruh Indonesia. Namun fakta yang terjadi di lapangan industry ritel secara umum terutama di bidang ritel makanan yang seharusnya mempunyai potensi besar untuk dikembangkan, tidak bisa berkembang dengan semestinya.
Salah satu penyebab utama stagnannya pertumbuhan industri ritel makanan di daerah adalah karena adanya dualisme atau pertarungan yang sengit antara pasar tradisional yang sudah lama menguasai potensi ritel makanan di daerah dengan pasar ritel modern yang berbentuk supermarket. Seringkali pedagang pasar tradisional menganggap adanya supermarket ini akan dapat menggusur keberadaan mereka.
Kekhawatiran ini memang dapat dibuktikan secara fakta dimana sampai sekarang, ritel modern sudah menjadi 162 persen. Bahkan, pertumbuhan gerai minimarket mencapai 254,8 persen, yakni dari 2.058 gerai pada tahun 2003 menjadi 7.301 gerai pada tahun 2008, sementara jumlah pasar tradisional kurun lima tahun terakhir cenderung stagnan. (KOMPAS, 15/3/2010)
Petumbuhan gerai ritel dari tahun ke tahun yang terus meningkat juga disebabkan gencarnya penetrasi ritel asing di Indonesia. Data BisInfocua 2008 menyebutkan jika pada tahun 1970-1990 pemegang merek ritel asing yang masuk Indonesia hanya lima, dengan jumlah 275 gerai, tahun 2004 sudah 14 merek ritel asing yang masuk, dengan 500 gerai. Tahun 2008, merek ritel asing yang masuk sudah 18, dengan 532 gerai.
Fakta ini tentu sangat memprihatinkan, mengingat para pemegang kebijakan hampir di semua daerah di Indonesia kurang memperhatikan nasib pasar tradisional. Kecenderungannya, pasar tradisonal hanya dijadikan objek untuk meningkatkan kontribusi pendapatan asli daerah (PAD). Sementara peluang usaha bagi mereka supaya lebih berkembang kerap diabaikan.
Oleh karena itu, dengan potensi pasar ritel makanan yang masih sangat besar peluangnya diperlukan solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan ini. Salah satu solusi yang sangat tepat adalah dengan cara melakukan Simbiosis Mutualisme Action antara pasar tradisional dan pasar modern sehingga semua potensi ritel makanan yang ada di daerah dapat digarap dengan tuntas.
Aplikasi yang dapat dilakukan untuk membangun Simbiosis Mutualisme Action antara pasar tradisional dan pasar modern diantaranya adalah. Pertama, adanya Simbiosis dalam perbaikan infrasturuktur. Ini mencakup jaminan tingkat kesehatan dan kebersihan yang layak, penerangan yang cukup, dan lingkungan keseluruhan yang nyaman. Contohnya, konstruksi bangunan pasar berlantai dua tidak disukai di kalangan pedagang karena para pelanggan enggan untuk naik dan berbelanja di lantai dua. Untuk itu, Pasar modern dapat bekerjasama dengan PEMDA melakukan investasi di bidang perbaikan infrastruktur ini, dengan adanya perbaikan infrastruktur pada pasar tradisional maka pasar modern nantinya akan dapat melakukan sinergi dengan pasar tradisional seperti dalam hal sebagai partner untuk saling mengisis kekosongan produk yang belum dimiliki baik oleh pasar tradisional maupun pasar modern ataupun pasar tradisional dapat diajak bekerjasam juga untuk memasang produk yang dimiliki oleh pasar tradisional dengan system bagi hasil, dikarenakan setelah adanya perbaikan infrastruktur maka pasar tradisional telah memiliki kelayakan tempat seperti pasar modern.
Kedua, mengorganisasi para PKL, baik dengan menyediakan kios/lapak di dalam pasar tradisonal yang telah dibangun infrastrukturnya ataupun juga dengan memberikan stan tertentu di sudut yang strategis di pasar modern sehingga PKL tidak memenuhi pasar tradisional yang dapat mengakibatkan kesemrawutan dalam perdagangan.
Ketiga bertalian dengan para pedagang sendiri. Kebanyakan pedagang harus membayar tunai kepada para pemasok barang dan menggunakan dana sendiri. Hal ini menghambat ekspansi usahanya, selain juga berarti bahwa para pedagang dibebankan seluruh risiko ketika menjalankan bisnisnya. Mengingat bahwa tidaklah lazim untuk mengasuransi kegiatan bisnis, posisi pedagang menjadi kian rentan, bahkan terhadap guncangan kecil sekali pun. Oleh karena itu, pasar modern dapat mengambil peran disini dengan cara memasok semua makanan atau produk yang dibutuhkan oleh para pedagang di pasar tradisional, cara pembayaran yang dilakukan oleh pedagang pun dapat dilakukan dengan cara kredit sehingga dapat saling menguntungkan kedua belah pihak antara pasar tradisional dan pasar modern.
Solusi yang terakhir adalah perlunya regulasi yang sistematis mengenai pasar modern, termasuk yang menyangkut isu hak dan tanggung jawab pengelola pasar dan pemda, dan juga sanksi atas pelanggaran aturan tersebut. Walaupun beberapa pemda menganggap penting untuk memiliki peraturan yang terpisah, perbaikan pada peraturan yang ada sebenarnya sudah cukup memadai. Selain itu, baik pemerintah pusat maupun daerah seyogianya bertindak tegas sesuai aturan yang berlaku. Terlebih lagi, yang terpenting adalah menjamin bahwa aturan tersebut dipahami oleh para pemangku kepentingan. Pemerintah pusat dan daerah harus memiliki mekanisme kontrol dan sistem pemantauan untuk menjamin kompetisi yang sehat antara pengusaha ritel modern dan pengusaha ritel tradisional.
Akhir kata dengan adanya Simbiosis Mutualisme Action terutama antara pasar modern dan pasar tradisional dengan menggunakan langkah-langkah diatas diharapkan kedepannya akan tercipta sinergi yang bagus untuk menggarap potensi ritel makanan di daerah yang masih sangat besar peluang untuk di jelajahi. Sehingga, ke depannya pedagang ritel makanan di Indonesia baik itu di kota maupun di daerah-daerah akan dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri, semoga.

* Mahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang

Read more...

06 Agustus 2009

Teknologi Mikrohidro Warga Gunung Sawur


Untuk menghasilkan listrik dengan sumber energi ramah lingkungan, dapat dilakukan teknologi mikrohidro yang mudah dan murah. Itu sudah dibuktikan Sucipto, seorang warga Dusun Gunung Sawur di lereng selatan Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur, sejak 1985 pada usianya yang 22 tahun.

"Dasar teorinya ada, saya peroleh dari ST (sekolah teknik, setingkat SMP) dan STM (sekolah teknik menengah, setingkat SMA). Namun, pembuatan alat kelengkapan dan pengembangan teknik mikrohidro secara keseluruhan saya pelajari otodidak," kata Sucipto, saat ditemui di rumahnya, sekaligus untuk bengkel kerjanya, Selasa (21/7).

Sucipto mulai dengan memotong material pelat logam ataupun pengelasan atau pengeboran besi, antara lain untuk pembuatan baling-baling turbin penggerak generator dan penyambung jaringan pipa untuk mengalirkan air sungai ke rumah turbin.

Pada tahun 1985, dengan dana seadanya, Sucipto menyusun rangkaian mikrohidro. Kemudian dilakukan percobaan berulang-ulang dengan sumber energi air sungai yang mengalir dekat rumahnya, Sungai Besuk Semut. Lambat laun Sucipto berhasil menunjukkan hasilnya: listrik. Masyarakat lalu meminta Sucipto lebih serius membuatnya.

Pada tahun 1990 mulai digagas dan dibuatlah mikrohidro. Dengan cara gotong royong dan penyediaan dana swadaya murni, mikrohidro hasil inovasi Sucipto ini selesai dibangun tahun 1992.

Melalui berbagai penyempurnaan sesudahnya, Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Gunung Sawur kini menghasilkan listrik 13.000 watt (13 kilowatt). Sebanyak 79 keluarga Gunung Sawur menikmati penerangan listrik dari PLTMH itu.

PLTMH Gunung Sawur bagi Sucipto adalah titik awal aplikasi hasil industri rumahnya. Di teras rumah tak lebih dari ukuran 3 x 3 meter persegi, Sucipto membuat bengkel untuk pembuatan turbin serta kelengkapan PLTMH lainnya. Rangkaian detail peralatan yang tidak dibuat hanyalah generator. Meski bisa membuat sendiri, harga generator bisa mahal. Padahal kalau beli, Rp 9 juta yang buatan China berkapasitas 30.000 watt.

Sejak 1992 hingga 2009 ada 81 PLTMH buatan Sucipto. Energi listrik yang dihasilkan, 5.000 watt-40.000 watt, dan tersebar di Jawa Timur, yaitu Lumajang, Probolinggo, Ponorogo, Trenggalek, Malang, Mojokerto, Pacitan, dan Jember. Ada yang dipasang di Lampung dan Bengkulu.

Inspirasi kincir air

Sucipto terinspirasi dengan yang dilihatnya pada masa remaja, tahun 1980-an, yaitu kincir air di desanya, di Kecamatan Candipuro. Ia melihat sepuluh kincir air di berbagai desa menggerakkan turbin dan generator untuk menghasilkan listrik.

Kincir air terlalu besar dan bisa hancur diterjang banjir. Jadi Sucipto membuat yang lebih kecil, tetapi aman dari terjangan banjir.

Untuk membuat PLTMH dibutuhkan badan sungai sebagai sumber air dan bangunan pembelok air sungai atau mercu bendung. Aliran air yang dibelokkan akan menuju saluran pembawa yang dilengkapi bak pemerangkap pasir.

Bak ini berfungsi memperlambat laju aliran air. Di situ dipasang penyaring sampah dan saluran pembuang kelebihan air (spillway). Aliran air dari bak penampungan harus bersih, bebas dari sampah, endapan lumpur, dan pasir. Lalu, air diarahkan ke pipa pesat (penstock) untuk memutar baling-baling turbin.

Dinamai pipa pesat karena pipa ini ditujukan untuk mempercepat jalannya air memanfaatkan gaya gravitasi. Pipa pesat dipasang miring mendekati vertikal disertai ukuran pipa tertentu menyesuaikan debit atau intensitas laju airnya. Air itu lalu menggerakkan turbin. Putaran turbin menggerakkan generator dan diperolehlah listrik.

Air dilepas kembali melalui saluran akhir (tailrace) dan disatukan kembali dengan aliran sungai. Ketinggian air jatuh dari bak penampungan ke turbin melalui pipa pesat 7,5 meter dengan diameter pipa 18 inci serta panjang 23 meter.

Turbin yang digunakan buatan Sucipto dinamai tipe Cross Flow C4-24 dengan kecepatan putaran 555 rpm (putaran per menit). Kategori C4 untuk kode turbin bikinan Sucipto, sedangkan angka 24 merupakan diameter turbin 24 sentimeter.

Generator PLTMH Gunung Sawur kapasitasnya 20 kilovoltampere dengan putaran 1.500 rpm dan frekuensi 50 hertz. Daya terbangkit berkisar 13.000 watt, yang saat ini dimanfaatkan untuk 79 keluarga.

Kemunculan PLTMH secara swadaya murni lalu disusul PLTMH Poncosomo (1997) dan Kajar Kuning (2000) yang berjarak hanya ratusan meter. PLTMH Poncosomo menghasilkan 8.500 watt untuk 98 keluarga. Daya listrik dari PLTMH Kajar Kuning 6.500 watt dan digunakan 56 keluarga. Resident Representative Program Pembangunan PBB (UNDP) di Indonesia El Mostafa Benlamih-berkebangsaan Maroko-Selasa (21/7) mengunjungi PLTMH Gunung Sawur. Bersama unsur pimpinan UNDP Indonesia, Budhi Sayoko, El Mostafa melihat aplikasi teknologi mikrohidro berpotensi ditingkatkan supaya jauh lebih optimal menghasilkan listrik.

Manfaat produktif

Jaringan listrik PLN masuk wilayah Dusun Gunung Sawur dan sekitarnya pada tahun 1996. Namun, mikrohidro karya Sucipto hingga sekarang masih terus beroperasi.

Menurut beberapa warga pengguna, menggunakan listrik dari mikrohidro jauh lebih murah dibandingkan dengan listrik PLN. Menurut Sucipto, listrik mikrohidro dijual Rp 500 per kilowattjam, sedangkan listrik PLN seharga Rp 700 per kilowattjam.

Seperti disadari Sucipto, pemanfaatan listrik mikrohidro untuk usaha produktif warga desa masih sangat kurang. Di sinilah peran pemerintah ataupun lembaga terkait lain untuk memberikan insentif usaha produktif atau penciptaan nilai tambah produk yang bisa dihasilkan warga secara berkelanjutan dan kompetitif. Warga akan meraih untung jika diberi kesempatan untuk menjual listrik masuk ke jaringan PLN.

Read more...

05 Agustus 2009

30.000 Spesies Tanaman Indonesia Belum Tergali

Bangsa Indonesia sangat kaya dengan sumber daya alam hayati, baik tumbuhan maupun hewan. Sayangnya, saking kayanya, bangsa yang kaya ini lupa akan kekayaannya. Pengusaha kosmetik Dr Martha Tilaar menyebutkan, sekitar 30.000 spesies tanaman di Indonesia belum tergali dengan baik oleh bangsa Indonesia sendiri.

Minimnya ahli herbal dan riset yang berkelanjutan membuat spesies-spesies ini masih menganggur di "kebun" Indonesia. Padahal, jika dilanjutkan, besar manfaatnya bagi kesejahteraan dan kesehatan masyarakat. "Saya sering merasa prihatin kenapa kita tidak memedulikannya. Pengalaman saya di luar negeri, di negara yang saya kunjungi tidak disebutkan nama Indonesia sebagai pemilik kekayaan alamnya, padahal menggunakan bahan dari Indonesia," ujar Martha di sela-sela penandatangan kerja sama Martha Tilaar Group dengan Universitas Indonesia untuk Program Studi Herbal di Rektorat UI, Depok, Kamis (30/7).

Pendiri dan pemilik Martha Tilaar Group itu mengaku, kini baru meneliti 565 spesies koleksi yang tertanam di Kampung Djamoe Organik Martha Tilaar di kawasan Cikarang. Oleh karena itu, Martha merasa perlu melakukan riset yang berkesinambungan dari provinsi ke provinsi untuk menggali ribuan kekayaan herbal lain yang berbeda-beda, misalnya Makatana dari Sulawesi Utara.

Namun, sulit dilakukan jika ahli herbal yang tersedia makin sedikit. Solusinya, lanjut Martha, harus ada langkah jangka panjang untuk menghasilkan tenaga yang kompeten dalam bidang herbal. Itu bisa dijangkau dengan kerja sama. Entah itu pelatihan atau dunia akademis, salah satunya melalui pembukaan Program Studi Herbal seperti yang dilakukan UI.

Melalui dunia akademis, tentu saja juga menghasilkan pengetahuan tentang pengelolaan kekayaan alam herbal yang dapat diteruskan ke generasi selanjutnya. "Pengelolaan oleh tenaga yang kompeten kiranya dapat mengangkat obat herbal menjadi public health," tandas Martha.

Read more...

Spesies Baru, Burung Bulbul Kepala Botak


Siapa menyangka di daratan Asia masih ada spesies burung yang baru saja diketahui. Penemuan ini mengejutkan karena dalam 100 tahun terakhir tidak pernah ditemukan spesies baru lagi di Asia.

Belum lama ini, ditemukan burung bulbul yang unik, satu-satunya burung di Asia dengan kepala yang botak. Burung yang diberi nama ilmiah Passeriformes pycnonotidae tersebut ditemukan para peneliti Worldwide Conservation Society (WCS) di Laos.

"Menemukan spesies burung baru merupakan hal yang amat langka saat ini," kata Peter Clyne, asisten direktur Program Asia di Wildlife Conservation Society (WCS) yang berpusat di New York. Burung tersebut ditemukan ilmuwan WCS masing-masing Will Duckworth dan Rob Timmins serta Iain Woxvold dari Universitas Melbourne, Australia,

Burung kepala botak itu termasuk kelompok burung yang dapat berkicau. Ukurannya sebesar burung kutilang dengan bulu-bulu berwarna hijau di punggungnya dan dada yang mengilap. Matanya yang besar dan hitam terlihat jelas di kepalanya yang botak.

Ia hidup di pepohonan yang jarang di kawasan karst atau perbukitan kapur di dataran rendah Laos. Lingkungan yang cukup terpencil dan sulit dijangkau itulah yang diduga membuat keberadaannya jarang ditemui manusia. Padahal kicauannya termasuk khas dengan suara melengking dan berulang-ulang.

Di dunia tak banyak burung berkepala botak seperti ini. Beberapa di antaranya yang sudah populer antara lain kalkun dan elang botak namun keduanya tak termasuk satu kelompok dengan bulbul.

Read more...

Bangau Storm, Si Muka Merah Jambu


Bangau storm (Ciconia stormi) adalah salah satu jenis burung langka yang masuk dalam seri perangko "Pusaka Hutan Sumatera". Menurut perkiraan, jumlah bangau storm di seluruh daerah persebarannya hanya tinggal 500 ekor saja.

Di Sumatera hanya terdapat 150 ekor. Jumlahnya yang terus menurun membuat International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengelompokkannya ke dalam status "genting" (Endangered/EN).

Bangau berukuran besar, panjangnya mencapai 80 cm. Bulunya dominan berwarna hitam dan putih dengan paruh merah yang sedikit melengkung ke atas. Lebih spesifik lagi, bulu sayap, punggung, mahkota, dan dan dada berwarna hitam, sedangkan bulu pada tenggorokan, tengkuk, perut, dan ekor berwarna putih. Kulit mukanya berwarna semu merah jambu, sangat nyata saat berbiak.

Di Indonesia, bangau storm tersebar di Kalimantan dan Sumatera. Mereka hidup di hutan primer dan dataran rendah, hutan awet-hijau, dan hutan rawa air tawar di kawasan Sunda Besar. Biasanya mereka hidup soliter atau membentuk kelompok kecil.

Bangau storm membangun sarangnya secara berkoloni (berkelompok). Sarangnya pernah ditemukan di Sumatera pada ketinggian 8,3 m pada pohon bakau Rhizophora mucronat. Posisi sarang yang tinggi di atas sungai ini merupakan strategi anti-predator.

Meskipun secara hukum dilindungi di semua lokasi sebarannya di Indonesia, namun bangau storm juga membutuhkan pengelolaan kawasan lindung yang efektif. Mari kita bantu lestarikan mereka!

Read more...

Menunggu Ujung Cerita Komodo Flores


Ibarat sebuah lakon, komodo (Varanus komodensis) saat ini sedang menjadi tokoh utama masalah lingkungan dan pariwisata nasional. Semua masih menunggu ujung ceritanya. Akan jadi manis atau jadi lelakon kontroversial sebagaimana tambahan 8 ekor gajah dari 31 gajah milik Taman Safari Bali di Kabupaten Gianyar kini.

Pekan lalu, Taman Nasional Komodo, salah satu habitat asli komodo di Nusa Tenggara Timur, diumumkan menjadi salah satu finalis Tujuh Keajaiban Dunia Baru yang digelar Yayasan Tujuh Keajaiban Dunia Baru.

Bersama 27 finalis lainnya, Taman Nasional Komodo telah menyisihkan 440 nomine dari 220 negara.

Namun, di internet, ajakan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk mendukung pemilihan itu sama kencangnya dengan seruan penolakan rencana pemindahan 10 ekor atau 5 pasang komodo dari Wae Wuul, Manggarai Barat, Pulau Flores, NTT, ke Provinsi Bali. Di situs jejaring sosial Facebook, misalnya, seruan itu berbunyi tajam, yakni ”Tolak Rencana Pemindahan Komodo ke Bali”.

Rencana itu menjadi polemik terbaru tentang komodo, yang secara bersamaan juga terimbas masalah aktivitas pertambangan emas di wilayah Batugosok, yang juga terletak di Kabupaten Manggarai Barat.

Masyarakat NTT sejak awal menolak dengan tegas rencana ini. Mulai dari lembaga swadaya masyarakat pemerhati lingkungan, DPRD Kabupaten Manggarai Barat, kepala daerah di Flores, hingga DPRD dan Gubernur NTT Frans Lebu Raya. Gerakan Pelestarian Komodo Flores, misalnya, menggalang aksi mengumpulkan tanda tangan sebagai bentuk penolakan rencana itu. Muncul penilaian, pemerintah pusat otoriter jika rencana itu benar-benar direalisasikan.

”Jika akan dipindah, sebaiknya jangan ke Bali karena habitat di sana sangat berbeda dengan habitat aslinya di Pulau Rinca dan Pulau Komodo. Pemurnian genetik itu tidak gampang, begitu pula memindahkan hewan ini,” ujar Bupati Manggarai Barat Wilfridus Fidelis Pranda.

Sejumlah kalangan juga menilai pemindahan komodo ke Bali dalam aspek pariwisata sangat merugikan NTT, dan Bali sekaligus. Flores kehilangan pesona komodonya, sedangkan keunikan seni tradisi dan wisata religi Bali ”teracak-acak” konsep supermarket wisata: puluhan gajah, komodo, dan entah apa lagi kelak....

Apalagi, proses pemurnian genetik itu kabarnya dijadikan atraksi wisata andalan oleh Taman Safari Bali. Dikhawatirkan wisatawan tak lagi berminat ke timur, mengunjungi habitat asli komodo di Flores.

Masyarakat Bali sudah mengambil hikmah dari polemik masuknya tambahan 8 ekor gajah ke Taman Safari Bali yang berujung pelarangan penambahan gajah ke Bali hingga selesainya kajian tentang daya dukung wilayah Bali sejak awal tahun ini.

Kajian terhadap daya dukung Bali itu, misalnya, seberapa besar sih minat turis menonton pertunjukan gajah di Bali? Apa tidak sulit mencari pakan bagi puluhan hewan besar itu? Dalam sehari, seekor gajah butuh kira-kira 2 kuintal makanan berupa pelepah kelapa, buah dan sayuran, serta rumput.

Harap dicatat, sampai saat ini di seluruh Bali sudah ada 86 ekor gajah yang ”dipekerjakan” di tiga taman wisata, yaitu 31 ekor di

Taman Safari Bali (di Lebih, Gianyar), sisanya ada di Taro Gajah Safari (Ubud, Gianyar), dan Bakas Adventures (Klungkung). Selain untuk atraksi wisata, gajah-gajah itu umumnya ditunggangi turis untuk bersafari keluar-masuk desa.

Kekhasan pariwisata Bali yang mengunggulkan wisata budaya dan religi sudah lama dikhawatirkan luntur dan luruh jika pengusaha wisata Bali mengadopsi atraksi wisata satwa seperti gajah dan komodo, juga segala hal, masuk ke sana. ”Bali itu terkenal karena budayanya, bukan karena gajah atau binatangnya. Pariwisata budaya itu sampai kapan pun harus tetap dipertahankan,” kata Gede Nurjaya, mantan Kepala Dinas Pariwisata Bali.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali Agung Wardhana menyatakan, penempatan komodo di Bali menuntut penciptaan habitat buatan agar menyerupai habitat aslinya di Wae Wuul. Untuk itu, ia mendesak Departemen Kehutanan membuka kepada publik kajian analisis mengenai dampak alam dan sosial atas rencana itu.

Sebagaimana termuat dalam Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.384/Menhut-II/2009 tanggal 13 Mei 2009 tentang pemberian izin menangkap 10 ekor komodo, tujuan utama pemindahan adalah pemurnian genetik. Rencana pemurnian yang akan dilakukan oleh Taman Safari Bali itu, kata Menteri Kehutanan MS Kaban, juga sudah mendapatkan persetujuan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Kaban menyatakan, pemerintah mengambil langkah tersebut sekaligus untuk menyelamatkan komodo di Pulau Flores dari ancaman kepunahan. Proses pemindahan juga penting karena komodo di Pulau Flores kini terancam karena hidup di areal semak belukar penuh rumput kering yang pada musim panas sangat mudah terbakar. Persoalan yang lebih penting: komodo mulai masuk ke perkampungan dan memangsa ternak warga.

Namun, otoritas Taman Safari Bali enggan berkomentar tentang polemik ini. Namun, Seperti ditegaskan Direktur Taman Safari Indonesia Tonny Sumampau, pemurnian genetik semata-mata demi kepentingan konservasi, dan komodo yang dikembangbiakkan di Taman Safari Indonesia tidak ditujukan untuk dijual atau ditukarkan dengan satwa dari luar negeri.

Selain Taman Safari, sejumlah lembaga konservasi eksitu (luar habitat alami) telah mengoleksi komodo, di antaranya Kebun Binatang Ragunan (Jakarta), Kebun Binatang Surabaya, dan Kebun Binatang Gembira Loka (Yogyakarta).

Namun, seperti dilansir Kompas.com, data genetika komodo di semua daerah di NTT sebenarnya sudah tersedia, yakni hasil penelitian Tim Peneliti Kajian DNA Molekuler Komodo Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI beberapa tahun lalu. Kajian diversitas genetik itu diperoleh setelah meneliti 154 sampel darah komodo yang dikoleksi dari Pulau Flores bagian utara, Flores bagian barat, Gili Montang, Nusa Kode, Rinca, dan Pulau Komodo.

Itulah sebabnya, argumen pemurnian genetik di Bali itu dinilai salah tempat. Menurut Koordinator Gerakan Pelestarian Komodo Flores Rofino Kant, pemurnian itu semestinya dilakukan di habitat aslinya, bukan di Bali. Seiring dengan hal itu, pemerintah pusat justru lebih tepat meningkatkan fasilitas konservasi komodo di Flores. ”Fasilitas di Wae Wuul amat minim. Begitu pula fasilitas secara umum dalam lingkup Balai Konservasi Sumber Daya Alam II yang meliputi Flores-Alor-Lembata.

Penolakan-penolakan itu sesungguhnya adalah bentuk kecintaan masyarakat kepada komodo dan habitat aslinya. Jelas publik menunggu pencabutan Surat Keputusan Menteri Kehutanan tersebut, dan pernyataan pembatalan rencana pemurnian genetik komodo oleh Taman Safari Indonesia.

Read more...

Penyu Dibantai untuk Diambil Telurnya


Perburuan telur penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) di pesisir barat laut Kalimantan Barat, yaitu di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, tidak terbatas mengambil telur dari sarang penyu. Sebagian pemburu telur bahkan membunuh dan membelah penyu untuk diambil telurnya.

Dalam perjalanan melihat habitat penyu di pesisir pantai Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, bersama WWF Indonesia, Kamis-Sabtu (30/7-1/8), ditemukan bangkai seekor penyu yang mulai membusuk, sekitar 2 kilometer sebelah selatan permukiman penduduk. Bagian perut penyu dengan panjang tubuh 98 sentimeter dan lebar 86 sentimeter itu terbelah dari samping.

Mulyadi, anggota staf monitoring WWF Indonesia Program Kalimantan Barat, menuturkan, warga melihat bangkai penyu tersebut, Sabtu (25/7), dan melaporkan ke kantor WWF di Kecamatan Paloh, Minggu (26/7).

”Saat kami datang, Senin, bangkai penyu belum bau. Diperkirakan penyu dibunuh pada Sabtu dini hari,” katanya.

Turtle Monitoring Officer WWF-Indonesia Program Kalbar Dwi Suprapti menyatakan, dari corak di tempurungnya, penyu tersebut merupakan penyu hijau. Penyu betina yang diperkirakan berusia lebih dari 30 tahun itu dibunuh saat bertelur di pantai.

Dalam pantauan WWF selama dua bulan terakhir, di sepanjang 63 kilometer pesisir pantai Paloh ditemukan enam bangkai penyu hijau dalam kondisi tubuh terbelah. Jumlah riil penyu yang dibantai untuk diambil telurnya diperkirakan lebih banyak mengingat pemantauan WWF hanya di titik-titik tertentu.

Brigadir Satu Sari Wahyono, Komandan Satuan Perintis Polisi yang bertugas di Pos Perbatasan Desa Temajuk, menyatakan, warga pernah melaporkan sejumlah orang yang dicurigai memburu telur penyu dengan cara membunuh. Namun, pihaknya tidak bisa gegabah menangkap orang itu tanpa bukti yang kuat.

Sekretaris Desa Temajuk Asman mengatakan, perburuan telur penyu lumrah bagi sebagian warga untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Mereka melakukan saat melintasi tepi pantai yang menjadi jalur transportasi darat satu-satunya.

”Selama akses jalan darat belum dibangun dan warga masih lewat tepi pantai, besar kemungkinan bagi mereka mengambil telur penyu,” katanya

Read more...

Populasi Komodo di Cagar Alam Wae Wuul Turun


Populasi komodo (Varanus komodoensis) di kawasan cagar alam Wae Wuul, di Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur berada dalam posisi sangat terancam atau rentan untuk punah, karena jumlahnya terus mengalami penurunan secara signi fikan dalam kurun waktu 18 tahun.

Hal itu sebagaimana siaran pers tertulis yang diberikan lembaga swadaya masyarakat (LSM) Komodo Survival Program (KSP), yang ditandatangani oleh Program Coordinator Deni Purwandana. Dari survei populasi komodo dan mangsanya yang dilakukan pada 22 Juni -19 Juli 2009 di Cagar Alam Wae Wuul, ditangkap komodo hanya 17 ekor. Survei itu dilakukan bersama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) NTT.

Dengan jumlah populasi komodo itu berarti telah mengalami penurunan secara signifikan, sebab dari penelitian di tempat yang sama tahun 1991 ditemukan 66 ekor komodo, sedangkan tahun 2000 sebanyak 19 ekor. Tingkat kepadatan populasi komodo di tahun 2000 itu juga 10 kali lebih rendah dari yang dapat ditangkap di Taman Nasional Komodo (TNK).

Komodo yang berhasil ditangkap dalam survei itu pun ukurannya di bawah 4 kilogram (kg), dan yang paling besar hanya seekor, yaitu seberat 19 kg. Tidak ada seekor komodo pun yang beratnya lebih dari 20 kg.

Di sisi lain, populasi mangsa komodo, seperti rusa Timor (Cervus timorensis) juga mengalami penurunan. Penurunan jumlah populasi komodo itu diperparah dengan penurunan populasi mangsa, juga tingginya tekanan aktivitas manusia seperti penurunan rusa, dan pembakaran padang rumput di sekitar, maupun di dalam kawasan cagar alam.

"Dengan kondisi seperti ini perlu dilakukan pengelolaan habitat lebih baik lagi untuk mencegah ancaman yang mengganggu proses ekologis seperti kebakaran hutan," kata Ketua Komodo Survival Program (KSP) Jeri Imansyah yang dihubungi dari Ende, Flores, Sabtu (1/8) kemarin.

Jeri juga menyatakan, dengan mencermati jumlah populasi komodo di Wae Wuul itu, maka rencana pihak departemen kehutanan untuk pemurn ian genetik dengan memindahkan 5 pasang komodo di Wae Wuul ke Taman Safari Bali justru akan mengancam kepunahan komodo Flores.

Pihak KSP juga meminta Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.384/Menhut-II/2009 tanggal 13 Mei 2009 tentang pemberian izin menangkap 10 ekor komodo di wilayah kerja Balai Besar KSDA NTT dibatalkan.

Menurut Jeri, salah satu opsi mendesak yang bisa dilakukan untuk melestarikan komodo Flores adalah dengan mengintroduksi mangsa komodo atau rusa ke Wae Wuul, meski hal itu juga perlu kajian.

Read more...

04 Agustus 2009

Waduh, Petugas BKSDA Jual Telur Penyu



Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat menjual ribuan telur penyu untuk membiayai operasional Taman Wisata Alam Tanjung Belimbing, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Padahal, mereka direkrut untuk mengawasi dan mengelola penangkaran penyu.

Kondisi ini ironis mengingat penyu dan telurnya merupakan satwa yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Ketentuan dalam undang-undang itu menyebutkan, pelaku yang mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan, atau memiliki telur dan atau sarang satwa yang dilindungi bisa dikenai hukuman pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta.

Penjualan telur penyu oleh karyawan lepas di Taman Wisata Alam (TWA) Tanjung Belimbing diakui Furqon, Kepala Resor KSDA Kecamatan Paloh yang membawahkan TWA Tanjung Belimbing, Sabtu (1/8). Penjualan berlangsung sejak BKSDA mengelola penuh TWA Tanjung Belimbing Januari 2009.

”Sebagian telur ditangkarkan, sebagian lagi dijual untuk membiayai penangkaran penyu dan ongkos orang yang menjaga di TWA,” kata Furqon.

Menurut Furqon, inisiatif penjualan telur penyu muncul dari Latif, karyawan lepas yang direkrut BKSDA untuk menjaga kawasan TWA yang memiliki panjang pantai sekitar 10 kilometer. Latif selanjutnya mempekerjakan 8 orang untuk menjaga penangkaran dan berpatroli mengambil telur-telur dari sarang penyu di pantai, baik yang berada di dalam TWA maupun di luar TWA.

Latif memberikan laporan bulanan kepada Furqon tentang jumlah telur yang ditetaskan, tetapi tidak memberikan laporan jumlah telur yang dijual. ”Semua dikelola Latif. Kepala Seksi KSDA Singkawang (yang membawahkan TWA Tanjung Belimbing) dan Kepala BKSDA juga mengetahuinya,” kata Furqon.

Latif yang ditemui secara terpisah mengakui menjual sebagian telur penyu untuk upah dirinya dan 8 anak buahnya serta membeli ikan untuk pakan tukik (anak penyu). Ia mengambil honor Rp 700.000 setiap bulan, sedangkan 8 karyawannya digaji Rp 300 untuk setiap butir telur yang diambil dari sarang penyu.

”Terpaksalah kami jual sedikit-sedikit karena tidak ada pendanaan. Setiap akhir bulan dijual, untuk menggaji tenaga yang mengambil telur di pantai dan menjaga penangkaran,” katanya.

M Zaini, tenaga yang dipekerjakan Latif, mengatakan, pada musim penyu bertelur bulan April-Juli dapat dikumpulkan sekitar 200 butir telur setiap malam. Saat ditemui, Sabtu dini hari, Zaini tengah mencari telur penyu di pantai.

Telur yang ditangkarkan dan dilaporkan Latif ke Resor KSDA Paloh setiap bulan maksimal hanya 2.000 butir.

Warga pernah tiga kali melapor kepada polisi tentang praktik penjualan telur penyu oleh Latif dan kelompoknya. Namun, laporan itu belum ditanggapi.

Seperti diberitakan sebelumnya, sebagian besar telur penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) hasil perburuan di Kecamatan Paloh, Sambas, dijual dan diselundupkan ke Serawak, Malaysia

Read more...

Monyet Ekor Panjang Punya Rumah Baru





Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) memang tidak tergolong satwa yang dilindungi. Justru karena alasan tersebut monyet jenis ini paling rentan terhadap ekspoitasi baik diburu, diperdagangkan, dan dijadikan objek tontonan. Padahal monyet ekor panjang memiliki fungsi ekologis yang tak kalah penting dibandingkan jenis primata lain yang dilindungi. Oleh sebab itulah tidak ada alasan bagi IAR untuk tidak melakukan penyelamatan terhadap satwa ini. -AR. Darma Jaya Sukmana, Direktur Eksekutif International Animal Rescue-

MANUSIA menyebutnya dengan beragam nama. Orang Bali menyebutnya Bojog; orang Jawa Tengah dan Jawa Timur memanggilnya Kethek; sementara orang Jawa Barat memanggilnya Kunyuk, Oces maupun Monyet. Dengan tinggi tubuh antara 38-76 cm, primata ini terlihat kokoh dengan balutan mantel rambut berwarna cokelat kemerah-merahan di bagian bawah dan wajah meninjol dengan warna keputihan.

Walau banyak nama untuk menyebutnya, hewan yang dimaksud adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), primata yang jamak dijumpai di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Konon, Sir Thomas Stamford Raffles memberi nama ini saat ia berusia 40 tahun di tahun 1821. Macaca berarti monyet dalam bahasa Portugis, macaco. Sementara fascicularis kemungkinan mengacu pada kelompok kecil, 5-6 ekor per kelompok.

Pagi di awal bulan Agustus, Sabtu (1/8), lima belas monyet ekor panjang dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya di Pulau Panaitan, Taman Nasional Ujung Kulon, usai merampungkan masa rehabilitasi di pusat rehabilitasi satwa International Animal Rescue (IAR) di Ciapus, Bogor.

Beruntung, mereka dirawat oleh IAR, lembaga yang secara konsisten berupaya untuk menyelamatkan monyet ekor panjang dari kepunahannya. Sayangnya, sebagai primata yang mampu hidup dalam beragam kondisi dari hutan bakau di pantai, dataran rendah hingga pegunungan dengan ketinggian 2.000 mdpl, monyet ekor panjang bukan termasuk satwa yang dilindungi. Lebih-lebih, monyet yang bisa memanjat sembari melompat sejauh 5 meter ini sering menjadi subyek eksploitasi. Bukan hanya menjadi olok-olokan antara manusia lantaran kenakalannya mirip dengan manusia, tetapi juga sering menjadi hewan percobaan dalam riset biomedis seperti HIV-AIDS, produksi vaksin polio, kardiovaskuler dan gastoentrik .

Tak heran, banyak monyet ekor panjang diserahkan kepada IAR dengan kondisi yang tak sempurna. Misalnya, ada satu monyet ekor panjang yang kehilangan ekornya lantaran dibabat oleh pemiliknya. Sudah kehilangan organ tubuhnya, monyet yang bisa berenang dengan baik ini juga kehilangan fungsi sosialnya sebagai satwa yang mestinya hidup berkelompok.

Panaitan, habitat anyar 15 monyet ekor panjang

Karena termasuk hewan yang gesit, saat pelepasliaran monyet ekor panjang, relawan IAR harus berjibaku menangkap dan membiusnya berulang kali demi memudahkan proses pemindahan dan menghindari monyet ekor panjang dari stres. Dalam keadaan tertidur, relawan IAR perlahan-lahan mengeluarkan monyet ekor panjang dari kandang rehabilitasi dan dengan leluasa melakukan proses pemeriksaan satwa. Mulai dari menimbang, memasang microchip, hingga mengambil sampel darah untuk memastikan kesehatan monyet.

Relawan membutuhkan sedikitnya lima jam untuk memeriksa dan memindahkan lima belas monyet ekor panjang tersebut dari kandang rehabilitasi ke kandang transport. Sesudahnya, mereka diusung ke Pulau Panaitan, bakal habitat monyet ekor panjang di sebelah barat laut Jawa dekat Ujung Kulon.

Mengapa Pulau Panaitan? Pulau seluas 17.500 hektar tersebut menggudangkan hutan dan beragam hewan liar seperti rusa, babi hutan, ulat phyton, monyet dan juga berbagai macam burung. Nantinya, dengan merekalah monyet ekor panjang membaur. Areal Pulau Panaitan yang luas merupakan alasan utama monyet ekor panjang diangkut ke kawasan ini. Pertimbangan lainnya adalah soal ketersediaan pakan, jauh dari masyarakat, tipe vegetasi yang ditumbuhi pohon-pohon yang sesuai dengan tempat tidur monyet, hingga pertimbangan satwa lain yang menjadi pesaing dan predatornya.

Di Pulau Panaitan, lima belas monyet ekor panjang yang terbagi dalam tiga kelompok ini menempati kandang habituasi selama tiga hari. Disana, mereka belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan anyar sebelum akhirnya benar-benar dilepasliarkan. Maklum, meski sudah menjalani proses rehabilitasi, lepas dari ketergantungan manusia adalah masa yang sulit bagi monyet-monyet ini pada awal pelepasliaran.

Karenanya, saat beberapa monyet ekor panjang kembali ke kamp relawan IAR, mereka harus dihalau agar kembali ke hutan. Meski telah melepasliarkan monyet, pekerjaan relawan IAR tak serta-merta usai. Mereka masih harus melakukan pengamatan selama kurang lebih dua minggu untuk memastikan monyet-monyet ini bisa bertahan hidup di lingkungan barunya.

Read more...

Kondisi Tukik di TWA Tanjung Belimbing Memprihatinkan


Selain persoalan yang muncul bahwa Taman Wisata Alam Tanjung Belimbing, Kalimantan Barat, dibiayai dari penjualan ribuan telur penyu, kondisi penangkaran tukik di sana juga ternyata memprihatinkan. Pengelolaan yang tidak sesuai dengan kaidah konservasi mengakibatkan setiap hari sebagian besar tukik mati.

"Dari 25 telur yang ditangkarkan, paling-paling hanya dua butir yang menetas. Itu pun belum tentu bisa bertahan selama pembesaran. Padahal, tiap hari diberi pakan dua kali dan airnya diganti," kata Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam Kecamatan Paloh Furqon yang membawahi Taman Wisata Alam Tanjung Belimbing, Senin (3/8).

Saat ini diperkirakan ada sekitar 500 ekor tukik yang dipelihara di kolam pembesaran TWA Tanjung Belimbing. Pemantauan Kompas, Sabtu (1/8), menunjukkan, ada tiga jenis tukik yang dipelihara di sana, yakni dari jenis penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), serta penyu lekang (Lepidochelys olivacea).

Di kolam pembesaran tersebut sedikitnya ada empat tukik yang mati dan mengapung di permukaan air.

Data pelaporan Resor Konservasi Sumber Daya Alam Paloh mengenai penetasan telur, dari sekitar 5.000 telur yang ditetaskan pada Januari-April 2009, ternyata hanya 10 butir telur yang menetas. Selebihnya telur-telur itu membusuk dan terpaksa dibuang.

Turtle Monitoring Officer WWF-Indonesia Program Kalimantan Barat Dwi Suprapti menilai, lokasi tempat penetasan telur yang jauh dari tepi pantai turut memengaruhi kegagalan penetasan telur penyu.

Banyak bakteri

Di lokasi itu kemungkinan besar terdapat banyak bakteri yang bisa membusukkan telur penyu. Selain itu, suhu di sana juga diperkirakan tidak memenuhi standar ideal penetasan telur penyu yang berkisar 20 derajat hingga 30 derajat sehingga banyak embrio penyu yang mati.

Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah III Singkawang, yang membawahi TWA Tanjung Belimbing, Junaidi mengungkapkan, idealnya memang telur penyu itu dibiarkan di habitat aslinya dan tidak dipindahkan.

Pemindahan yang dilakukan petugasnya dimaksudkan untuk menyelamatkan telur dari perburuan liar. Adapun pembesaran dilakukan agar tukik terlindungi dari predatornya di alam.

Namun, menurut Dwi, pemeliharaan penyu di kolam pembesaran justru tidak baik bagi daya tahan hidup penyu saat dilepas ke habitat aslinya.

Pasalnya, penyu yang dibesarkan di kolam tidak lagi memiliki kemampuan berenang yang cepat untuk menghindari predator di laut. Selain itu, penyu menjadi bergantung pada manusia yang memberi pakan.

"Kami punya pengalaman di Alas Purwo (Jawa Timur) dengan memelihara penyu selama satu tahun baru dilepas dengan harapan bisa lebih bertahan dari predator. Namun, yang terjadi justru penyu yang dilepas ke laut selalu mendatangi kapal nelayan karena dikira mereka mau memberi pakan," katanya.

Sekretaris Desa Temajuk Asman, seperti dimuat sebelumnya di harian ini (Minggu, 2/8), mengatakan, perburuan telur penyu lumrah bagi sebagian warga untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Mereka melakukan perburuan saat melintasi tepi pantai yang menjadi jalur transportasi darat satu-satunya.

"Selama akses jalan darat belum dibangun dan warga masih lewat tepi pantai besar kemungkinan bagi mereka mengambil telur penyu," katanya.

Telur penyu kadang-kadang didapatkan dengan membunuh langsung induknya dan mengambil telur dari rahim induknya. Dalam perjalanan di kawasan itu World Wildlife Fund bersama Kompas menemukan bangkai seekor penyu hijau (Chelonia mydas) yang mati dengan kerapas terbelah.

Read more...

Hati-hati 75 Persen Es Kutub Selatan Sudah Hilang



Beberapa ilmuwan Selandia Baru telah memperingatkan bahwa Kutub Selatan mencair lebih cepat daripada perkiraan.

Profesor Peter Barrett dari Antarctic Research Center, Victoria University mengatakan, jumlah es yang hilang mencapai 75 persen sejak 1996, dan bertambah dengan cepat.

Hilangnya gletser di ujung Kutub Selatan mengakibatkan kenaikan permukaan air laut 0,4 Mm per tahun, tambahnya seperti dilaporkan kantor berita Xinhua.

"Hilangnya es global dari Greenland, Antartika dan gletser lain menunjukkan permukaan air laut akan naik antara 80 centimeter dan 2 meter sampai 2100," kata Barett.

Direktur pusat penelitian Profesor Tim Naish, yang memimpin satu tim peneliti yang membor jauh ke dalam batu di Kutub Selatan dan menemukan catatan kuno dari yang terakhir bahwa CO2 atmosfir mencapai tingkatnya sekarang.

Mereka mendapati, 3 juta sampai 5 juta tahun lalu, permukaan air laut cukup hangat untuk mencairkan banyak bagian es Kutub Selatan ketika CO2 atmosfir hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan kondisinya hari ini.

Naish mengatakan es di bagian barat Antartika akan mencair sebelum lapisan es yang lebih besar di bagian timur Kutub Selatan karena es itu berada di bawah permukaan air laut dan menghangat bersama dengan air samudra.

Namun, ia mengatakan penelitian tersebut mengangkat pertanyaan yang tak terjawab mengenai berapa banyak CO2 atmosfir perlu naik untuk mencapai temperatur sampai 2 derajat celsius atau lebih.

Kondisi CO2 di atmosfir sekarang berjumlah 387 bagian per juta, naik dari sebanyak 280 bagian per juta pada awal Revolusi Industri.

Read more...

42 Persen Lapisan Es Kutub Utara Juga Hilang



Es di laut Kutub Utara telah menipis secara dramatis sejak 2004, dan es yang lebih tua serta lebih tebal pecah dan membuka jalan bagi es yang lebih muda dan lebih tipis, yang mencair pada musim panas di Bumi belahan utara, demikian laporan beberapa ilmuwan di lembaga antariksa AS, NASA.

Para peneliti selama bertahun-tahun telah mengetahui, es yang menutupi Laut Kutub Utara telah menyusut di satu daerah, tapi data baru satelit yang mengukur ketebalan es memperlihatkan volume es laut juga menyusut.

Itu penting karena es yang lebih tebal dan lebih ulet dapat bertahan dari musim panas ke musim panas berikutnya.

Tanpa lapisan es, perairan gelap Laut Kutub Utara lebih mudah menyerap panas sinar Matahari dan bukan memantulkannya sebagaimana terjadi pada es yang berwarna cerah, sehingga menambah kecepatan dampak pemanasan.

Melalui laporan yang dikirimkan pesawat antariksa ICESat, yang digunakan NASA, para ilmuwan menggambarkan, secara keseluruhan es Laut Kutub Utara menipis sebanyak 7 inci (17,78 centimeter) per tahun sejak 2004, sebanyak 2,2 kaki (0,67 meter) selama empat musim dingin. Temuan mereka dilaporkan di "Journal of Geophysical Research-Oceans".

Seluruh daerah yang tertutup es yang lebih tua dan lebih tebal yang sintas setidaknya selama satu musim panas kini menyusut sebanyak 42 persen.

Di luar itu, data baru satelit memperlihatkan, bagian es tua yang keras menipis secara bersamaan dengan meningkatnya jumlah es muda yang rapuh, keterangan yang sulit dilihat dengan jelas dari data sebelumnya.

Pada 2003, sebesar 62 persen dari seluruh volume es di Kutub Utara tersimpan di dalam lapisan es selama bertahun-tahun dan 38 persen es musiman pada tahun pertama. Sampai tahun lalu, 68 persen adalah es tahun pertama dan 32 persen es tahun-tahun berikutnya yang lebih keras.

Tim peneliti itu mengatakan, kelainan dan pemanasan global belakangan ini diduga di dalam sirkulasi es laut sebagai penyebabnya.

"Kita kehilangan lebih banyak es tua, dan itu penting," kata Ron Kwok dari Jet Propulsion Laboratory di Pasadena, California, sebagaimana dilaporkan kantor berita Inggris, Reuters.

"Pada dasarnya kami mengetahui berapa banyak daerah tersebut menyusut, tapi kami tidak mengetahui seberapa tebal."

Untuk mengetahui volume es itu, pesawat antariksa NASA, ICESat, mengukur seberapa tinggi es tersebut mencuat di atas permukaan laut di Kutub Utara, kata Kwok dalam satu wawancara telefon.

"Jika kami mengetahui seberapa banyak es mengambang di atas, kami dapat menggunakan itu untuk menghitung sisa ketebalan es tersebut. Sekitar sebilan per sepuluh es itu berada di bawah air," kata Kwok.

Pengukuran ICESat tampaknya mencakup seluruh Kutub Utara, dan semua itu digabungkan dengan pengukuran volume es yang dilakukan kapal selam, yang hanya mencakup beberapa kali perjalanan di seluruh daerah tersebut.

Es Laut Kutub Utara mencair sampai tingkat paling rendah keduanya tahun lalu, naik sedikit dari tingkat rendahnya sepanjang waktu pada 2007, demikian Pusat Data Es dan Salju AS

Es Kutub Utara adalah satu faktor dalam pola cuaca dan iklim global, karena perbedaan antara udara dingin di kedua kutub Bumi dan udara hangat di sekitar Khatulistiwa menggerakkan arus udara dan air, termasuk arus yang memancar.

Read more...

Dunia Makin Hangat, Ukuran Binatang Mengecil


Perubahan iklim ternyata berdampak pada sejumlah spesies di berbagai penjuru dunia, mulai dari beruang kutub di Arktik hingga terumbu karang di laut tropis.

Dua perubahan ekologis yang tercatat adalah beberapa spesies—hewan ataupun tumbuhan—berpindah ketinggian juga berpindah derajat lintang mencari suhu yang sesuai. Perubahan lain yaitu siklus hidup sejumlah spesies berubah serta musim bunga dan migrasi burung-burung telah bergeser waktunya.

Sekarang ada perubahan ketiga, yaitu meningkatnya suhu bumi diiringi dengan mengecilnya ukuran organisme—baik ukuran komunitas maupun ukuran individu.

Hal itu diungkapkan pemimpin tim peneliti Martin Daufresne dari Cemagref Aix-en-Provence, lembaga penelitian milik Pemerintah Perancis. Hasil studi ini akan dimuat di jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences.

Penelitian dilakukan jangka panjang pada komunitas di perairan, meliputi bakteri, fitoplankton serta ikan yang hidup di sungai, danau, dan lautan. Menurut Daufresne, kelompok ikan di sungai-sungai di Perancis berkurang jumlahnya lebih dari 60 persen dalam penelitian selama dua dekade

Read more...

"Global Warming" Telah Menggeser Musim Hujan

Intensitas musim hujan di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, bergeser dari siklus 20 tahun, sehingga telah mengganggu aktivitas para petani, nelayan, serta kelompok masyarakat lain setempat yang usahanya bergantung dengan kondisi cuaca.

Pergeseran tersebut terjadi sejak 2005 dan pergeseran terjauh berlangsung pada tahun 2008 lalu.

Jasirin, Kepala Stasiun Meteorologi Luwuk (ibu kota Kabupaten Banggai), menjelaskan, puncak curah hujan di daerahnya selama 20 tahun sebelum tahun 2005 selalu terjadi antara bulan Maret hingga Mei.

Akan tetapi, setelah itu, puncak hujan terjadi hanya pada bulan Mei selama 24 hari dengan intensitas curahnya mencapai 188 milimeter.

Bahkan pergeseran ekstrem terjadi pada tahun 2008, di mana puncak hujan terjadi di bulan Juli selama 27 hari dengan besaran curah 466 milimeter, sehingga sempat menimbulkan banjir besar di mana-mana.

Jasirin memperkirakan, pergeseran puncak curah hujan tersebut akibat pengaruh dari pemanasan global yang mendorong terjadinya perubahan iklim dan cuaca yang tidak menentu.

"Pergeseran siklus hujan itu sudah kami diprediksi sebelumnya, menyusul tingginya tingkat curah hujan lokal di Kabupaten Banggai selama empat tahun terakhir dan merupakan fenomena terbaru," tuturnya.

Menurut dia, munculnya hujan lokal dengan intensitas tinggi juga banyak dipengaruhi oleh rusaknya kawasan hutan dan daerah hijau di perkotaan dalam jumlah besar, selain faktor tingginya polusi udara.

"Masalah-masalah tersebut yang kemudian mengakibatkan daya dukung lingkungan menjadi rendah, sehingga rentan memunculkan bencana banjir, tanah longsor, hingga angin kencang," katanya.

Yang pasti, akibat dampak dari pemanasan global tersebut telah memengaruhi jadwal tanam petani, aktivitas nelayan, pelayaran kapal-motor, dan kegiatan penerbangan di daerahnya.

Read more...

Mendorong Perubahan Memunculkan Komitmen


Ada peringatan dari para ilmuwan bahwa suhu permukaan bumi tidak boleh naik lebih tinggi dari 2 derajat Celsius. Jika hal itu terjadi maka lebih dari 300 juta orang akan terusir dari tempat tinggalnya sekarang karena ribuan pulau akan tenggelam, kekeringan semakin parah, dan penyakit akan semakin meluas. Iklim yang semakin sulit diprediksi akan mengakibatkan banyak orang kehilangan mata pencaharian seperti nelayan dan petani di garis depan.

Upaya mencegah naiknya suhu bumi penyebab perubahan iklim tersebut mendapat komitmen resmi dari berbagai negara dengan lahirnya Protokol Kyoto 1997. Secara kelompok, negara-negara maju yang tergabung dalam kelompok Annex I memiliki komitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca - penyebab kenaikan suhu bumi global - rata-rata 5 persen dari basis yang ditetapkan yaitu tahun 1990. Kondisi itu harus tercapai 2012. Namun upaya tersebut berjalan amat lambat.

Pertemuan G-8 yang berakhir pertengahan bulan ini tidak membawa angin baru ketika negara-negara maju yang diwajibkan membantu negara-negara miskin dan berkembang ternyata menahan kucuran dananya (Kompas, 16/7).

“Negara-negara maju tak mau membuka dompetnya. Kami kecewa dengan perkembangan terkini,” ujar Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar ketika itu. “Kecenderungannya, mereka bertahan hingga menjelang pertemuan Kopenhagen akhir tahun 2009 ini,” tambahnya. Dia tak menutupi rasa kecewanya menghadapi perilaku negara-negara kaya. Pemerintah Inggris yang sudah siap mengucurkan dana, hanya sendiri di posisi itu.

Dengan cara pandang yang lain, mantan Wakil Presiden AS Al Gore dengan dukungan lembaga swadaya masyarakat The Climate Project, kini giat menyebarkan informasi tentang ancaman perubahan iklim ke berbagai kalangan. Ia menolak bersikap pesimistis (The Age, 13/7).

“Sekarang AS dan Australia telah menunjukkan kepemimpinannya, yang selama ini sangat dibutuhkan. Bergabungnya mereka dalam upaya (kesepakatan) Kopenhagen, akan mampu membuat perbedaan yang amat besar,” ujarnya di Melbourne, Australia disela-sela penyelenggaraan Pertemuan Puncak Asia Pasifik untuk perubahan iklim. Al Gore hadir di Melbourne untuk meluaskan jangkauannya dengan melatih sekitar 3.000 orang dari berbagai negara mengikuti jejaknya berkampanye tentang perubahan iklim, 11-13 Juli lalu di Melbourne, Australia.

Adil dan memadai

Sesuai dengan Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim (UNFCCC), disebutkan setidaknya ada empat target capaian pada Pertemuan Para Pihak ke-15 (COP-15) di Kopenhagen, Denmark. Harus ada kemajuan dalam keempat bidang tersebut agar perjalanan untuk membentuk kesepakatan baru sebagai pengganti Protokol Kyoto - yang akan selesai berlakunya pada 2012 - berlangsung mulus.

Saat ini ada tiga negara yang dipandang sebagai negara dengan ekonomi yang berkembang pesat dan tidak sepantasnya masuk kelompok negara berkembang, yaitu China, India, dan Brasil. Ketiga negara itu diminta juga menanggung beban tanggung jawab yang sama dengan negara-negara maju dalam urusan pengurangan emisi karbon (gas rumah kaca).

Ketika dunia sedang berkutat untuk mengatur langkah besarnya yang menghadapi jalan terjal, lalu apa peran kita? Penyebarluasan informasi mengenai perubahan iklim dan relevansinya dengan kehidupan keseharian diharapkan menjadi salah satu hal yang bisa dilakukan dan dapat menghasilkan perubahan. Ini berujung pada perubahan sikap negara-negara yang bernegosiasi di Kopenhagen, Denmark Desember nanti.

Dalam konteks itulah Al Gore melakukan pelatihannya. Indonesia mengirimkan 54 orang untuk mengikuti pertemuan puncak tersebut. Penyebarluasan informasi tentang perubahan iklim telah menyentuh sekitar 5 juta orang di dunia. Di Indonesia jumlah itu mencapai lebih dari 9.000 orang dari berbagai kalangan antara lain ilmuwan, nelayan, mahasiswa, eksekutif berbagai perusahaan mulai dari bankir hingga perusahaan tambang, juga para artis.

Kini dengan jumlah sukarelawan presenter 55 orang, diharapkan bisa lebih luas lagi lapisan masyarakat Indonesia yang terjangkau informasi tersebut. Mereka yang mendengar diharapkan menjadi agen perubahan. Tujuan besarnya adalah perubahan sikap negara-negara di Kopenhagen mendatang ketika ada tekanan dari masyarakat. “Kita harus merebut peluang memecahkan persoalan perubahan iklim. Saya yakin jika ada kesadaran meluas, kita akan bisa mendorong pemerintah untuk memecahkan persoalan ini,” ujar Al Gore.

Razak Manan, salah satu peserta pelatihan yang aktif di Perusahaan Pelayaran Indonesia menegaskan keteguhannya menyebarluaskan isu perubahan iklim. “Hal ini amat penting diketahui terutama di kalangan perusahaan pelayaran. Saya berharap ada perubahan yang bisa dibuat oleh mereka yang bisa menjadikan kondisi lebih baik.”

Sementara beberapa peserta pelatihan seperti Widodo Ramono dari Indonesian Rhino Conservation Foundation telah melakukan presentasi di lingkungan kerjanya serta sejumlah pejabat pemerintahan. Demikian pula Dicky Edwin Hindarto dari Dewan Nasional Perubahan Iklim yang melakukan presentasi di kalangan akademisi di Institut Teknologi 10 November, Surabaya seperti dia tuliskan dalam surat elektroniknya.

Pimpinan Dewan TCP Indonesia - yang berdiri pertengahan Juli lalu, yang juga presenter TCP Indonesia pertama, Amanda Katili mengatakan, semua lapisan masyarakat, mulai dari masyarakat biasa non-profesional, kaum profesional, pengusaha, pelajar, mahasiswa, ilmuwan, dan birokrat dan berbagai komunitas lainnya menjadi sasaran jangkauan TCP-Indonesia. Mereka dapat menghubungi anggota TCP-Indonesia seperti tercantum di halaman ini. (ISW)

Read more...

Mulai Hematkan Energi "Data Center" dari Kabel


Mencoba beramah tamah dengan lingkungan tak harus jauh-jauh dan sulit-sulit. Cukup kita perhatikan penggunaan kabel pada sebuah data center.

Menurut penelitian Gary Shamshoian, Senior Mechanical Engineer di Genentech Inc, konsumsi energi sebuah data center 15 kali lebih banyak dari pada sebuah gedung kantor pada umumnya, bahkan dalam kasus tertentu bisa mencapai 100 kali lipat lebih banyak.

Sedangkan menurut penelitian dari Lawrence Berkeley National Laboratory milik Departemen Energi AS, konsumsi untuk server dan peralatan data center di AS setara dengan lima pembangkit listrik berkapasitas 1.000 megawatt.

"Kabel mungkin terlihat sebagai sesuatu yang sepele, tapi jika kita bisa mengatur dengan baik, kita bisa meningkatkan efisiensi pada sisi konsumsi energi," ungkap John Duffy, Konsultan Senior, Regional Business Development Siemon di Jakarta, Kamis (30/7).

Melihat besarnya konsumsi energi dari sebuah data center, jika kita bisa menghemat sebagian kecil saja, hasilnya akan menjadi sangat signifikan.

John menjelaskan, efisiensi energi bisa dilakukan minimal dengan dua cara, yaitu menggunakan kabel yang berkualitas baik serta dengan pengaturan infrastruktur kabel yang baik.

"Pengaturan dan penggunaan infrastruktur kabel yang baik akan meminimalisir interference data dan mengurangi panas yang dihasilkan, sehingga bisa menghemat biaya dari mesin pendingin dan listrik yang dipakai," tambah John.

Menurut Kiki Randall, Country Manager Global Technology Services IBM Services, dunia usaha sangat memerlukan peningkatan efisiensi pada sisi konsumsi energi.

"Bersama dengan Simeon sebagai mitra kami, kami akan berbagi keahlian, kemampuan, dan teknologi untuk menciptakan solusi yang dibutuhkan pelanggan kami untuk mengatasi permasalahan konsumsi energi saat ini," ujar Kiki.

IBM dan Seimon, perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur jaringan, saat ini sedang melakukan kerjasama mengembangkan data center yang lebih ramah lingkungan. Mereka akan memulainya dari kabel.

Read more...

Krisis yang Mendorong Kelahiran Kembali


Di mana ada masalah, di sana terdapat peluang. Kalimat sakti di dunia kewirausahaan ini tidak hanya menjadi slogan kosong bagi Denmark. Negeri dongeng tersebut kini menjadi salah satu negara terdepan dalam urusan merebut peluang yang ditawarkan oleh problem masif lingkungan, yaitu perubahan iklim.

Sejarah panjang telah dijalani Denmark sebelum mereka sampai pada posisi sekarang: menjadi negara sejahtera dengan penduduk yang menurut survei tahun 2008 adalah penduduk paling bahagia di dunia.

Semua berawal dari krisis global pertama minyak bumi sekitar tahun 1973-1974 yang kemudian membuat Denmark sadar bahwa negerinya akan bangkrut jika terus bergantung pada impor minyak bumi. ”Ketika itu bukan perkara lingkungan yang mendorong kami untuk hemat energi. Perhitungannya lebih pada ekonomi,” ujar staf ahli menteri pada Kementerian Luar Negeri Denmark Claus Hermansen di hadapan sejumlah wartawan dari Indonesia dan Rusia, Juni lalu di Kopenhagen, Denmark.

Apa yang menyebabkan Denmark kemudian berubah menjadi sebuah negara yang bisa disebut ”Modern Energy”? Semuanya bermula pada Oktober 1973 yang penuh gejolak. Di kawasan Timur Tengah—ladang minyak tempat bergantungnya banyak negara—sedang berkecamuk perang antara negara-negara Arab melawan Israel yang sering juga disebut sebagai Perang Yom Kippur. Denmark pada masa itu bersama Jepang merupakan negara yang lebih dari 90 persen sumber energinya bergantung pada impor minyak.

Chaos masalah energi berawal dari pecahnya perang Timur Tengah pada 6 Oktober 1973. Krisis minyak global pertama terjadi karena negara-negara Arab menggunakan minyak sebagai senjata untuk menekan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat yang berpihak kepada Israel. Pada awal November, negara-negara Arab mengurangi produksi minyaknya hingga 25 persen. Denmark bersama Jepang pun kelimpungan.

Dua masalah mengimpit Denmark. Pertama, harga minyak bumi terus meroket karena berkurangnya suplai secara amat signifikan dan kedua secara geostrategi pun masa depan minyak menjadi semakin tidak jelas. Denmark pun panik.

Pemerintahan Demokrat Sosial di bawah Anker Jørgensen yang ketika itu berkuasa lantas memutuskan memberlakukan peraturan pada November itu: hari Minggu tanpa mobil. Bukan hanya itu. Pemerintah juga memerintahkan semua toko mematikan lampu luar ketika mereka buka demi menghemat energi. Meski harga minyak kemudian turun, Denmark maju terus dengan kebijakan barunya.

Bel peringatan

Jens Kampmann, yang pada 1971 menjabat sebagai menteri lingkungan yang pertama—yang pada pemerintahan Demokrat Sosial 1977-1978 menjabat sebagai menteri yang bertanggung jawab atas pajak dan cukai—yakin bahwa peristiwa itu harus dipandang sebagai dering bel peringatan. Peristiwa tersebut menjadi pembuka jalan bagi pendekatan baru pembangunan Denmark. Mereka tak ingin terperosok kedua kalinya di lubang yang sama.

Seperti dikutip oleh Hermansen, Kampmann mengatakan, ”Denmark (ketika itu) menghubungkan masalah energi dan lingkungan awal tahun 1970-an, jauh sebelum banyak negara lain memikirkan itu. Ekonomi diartikan sama dengan menekan konsumsi energi. Ini menghasilkan ’win-win scenario’ untuk Denmark.” Hasilnya, kini Denmark adalah negara dengan efisiensi energi tertinggi per pendapatan negara.

”Pasar tak dapat menghadapi ini sendirian. Sungguh penting ada beragam insentif dan peraturan yang ditetapkan pemerintah,” ujar Kampmann, seperti tertulis di majalah Monday Morning edisi November 2008.

Negara semakin fokus pada persoalan energi. Ketika dunia belum berbicara energi angin, Tvind School sudah membuat turbin angin. Cara menghubungkan energi dengan ekonomi itulah titik sukses awal Denmark, seperti dikatakan Direktur Eksekutif dari Lembaga Penelitian Denmark Mette Wier.

Pemerintah yang mendengarkan

Momen perubahan terjadi pada 1976. Badan Energi Denmark didirikan dan untuk pertama kali ada rancangan energi terpadu. Agenda utamanya adalah mengurangi ketergantungan pada minyak dan mengurangi konsumsi energi. Orang mulai memasang insulasi untuk mengurangi kebutuhan pemanas rumah.

Dibangunlah pembangkit tenaga listrik terpadu combined heat and power (CHP) untuk pertama kalinya. Sistem ini merupakan sistem paling efisien dibandingkan sistem yang diterapkan banyak negara.

”Biasanya air panas hasil proses pendinginan mesin pada pembangkit listrik dibuang percuma, dalam sistem ini air tersebut diambil panasnya sebagai pemanas bangunan,” ujar Hermansen. Tahun 2005 Denmark telah memiliki 694 pembangkit kombinasi CHP dengan berbagai ukuran kapasitas. Selain CHP pusat, sejumlah CHP regional dan lokal dibangun untuk meningkatkan efisiensi yaitu agar panas tidak hilang akibat jarak suplai yang jauh.

Sistem itu sukses menghemat bahan bakar hingga 30 persen, sementara efisiensi bahan bakar naik dari 40 persen menjadi 90 persen. ”Nyaris tak ada yang terbuang,” kata Hermansen.

Pemerintah saat ini menyuplai pemanas dari CHP ke 60 persen jumlah bangunan secara nasional atau ekivalen dengan sekitar 800.000 bangunan rumah. Sekitar 25 persen pemanas tersebut disuplai dari bahan bakar biomassa.

Krisis minyak global kedua tahun 1978-1979 kembali mendorong perubahan besar-besaran. Tahun 1979 pertama kalinya Denmark memiliki Kementerian Energi dan parlemen meloloskan peraturan tentang distribusi gas alam dan pemanas. ”Tahun 1979-1985 ada pencapaian besar ketika konsumsi energi turun 25 persen-30 persen. Ini rekor dunia,” ujar konsultan senior Badan Energi Denmark Peter Bach (Monday Morning edisi November).

Ketika negara melirik energi nuklir, Tarjei Haaland dari Greenpeace memunculkan gerakan antinuklir terbesar di Denmark yang melibatkan organisasi akar rumput. Mereka menolak penggunaan nuklir sebagai sumber energi.

Wartawan koran Politiken Flemming Ytzen pada perjumpaan dengan Kompas awal Juni lalu di Kopenhagen menyatakan, ”Penolakan nuklir dan dorongan agar pemerintah lebih memegang paradigma hijau berawal dari media massa, organisasi nonpemerintah, dan organisasi masyarakat lainnya. Kami beruntung memiliki pemerintah yang baik, yang mau mendengarkan suara kami. Kami kemudian diajak duduk bersama untuk mengemukakan pendapat kami. Dan, mereka mendengarkan, menyetujuinya, dan melakukannya.”

Jika demikian halnya, tidak heran bahwa penduduk negeri dongeng ini kemudian dinobatkan menjadi penduduk paling bahagia di dunia. Dan, dengan semua kebijakan politik dan keputusan pemerintah itulah Denmark lahir kembali sebagai negara yang sama sekali berbeda: tidak lagi bergantung pada minyak.

Read more...

  © Free Blogger Templates Spain by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP